~Selingan Cinta Dari Khazanah Lama~


Ada seorang gadis yang sangat cantik sekali dan sangat rupawan. Dialah bunga disebuah kota yang harumnya semerbak hinga sampai ke negeri-negeri tentangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit sekali yang pernah mendengar suaranya, dan bisa di hitung jari orang yang pernah beruriusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman syurga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seseorang pemuada yang yang belum pernah ia lihat sebelumnya, belum pernah ia lihat wajahnya, belum pernah ia dengar suara pemuda tersebut. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terkadang terpisah oleh jarak, terkadang terkekang waktu. Tersekat oleh rasa asingf dan ragu. Hingga hari pun telah tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti cintanya bersambut sama.

Maka di tulisnya surat itu, memohon bertemu.
Dan ia mendapat jawban. ”Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya, kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikan bicara, karena demikianlah kebiasaan ada pada keluargnya.

”maha suci Allah.” kata si gadis sekilas kembali memandang,”yang telah menganugerahi engaklu wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

”betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”meletakan jemariku dalam genggaman tanganmu,”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka, yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akherat kelak hanya akan menjadi rasa sakit dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Sang gadis ikut tertunduk. ”tapi tahukah engkau”. Katanya melanjutkan, ”Telah lama aku di landa rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakan kepalaku di dadamu yang berdegup. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan."

”jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini kisah ini. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulawan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?” demikian beliau bertanya. ”sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

”tapi, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan sang gadis melakukan pelanggaran syariat. Bahwa sang pemuda mencampuradukan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas dakwah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah, sang gadis sama sekali tak mengindahkan dakwahnya. Bahkan ia semakin berani dalam kata-kata, mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syariat Islam."

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat dakwah sang pemuda. Buktinya, kalimat makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana percakapan diteruskan tanpa batas waktu?

”kesalahan itu”, kata syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulawan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” apa itu? ”Mereka berkhalwat!!! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”



Di sadur dari buku jalan cinta para pejuang karya Ssalim A. Fillah

Samarinda, 20 januari 2010




Adi Victoria

~kalau umat Islam tidak ikut pemilu, artinya parlemen dan pemerintahan akan diisi oleh orang-orang sekuler, benarkah???~

Ada sebagian orang di parlemen yang memiliki pendapat bahwa kalau umat Islam tidak ikut pemilu, artinya parlemen dan pemerintahan akan diisi oleh orang-orang sekuler. Kebijakan yang dihasilkan , diduga keras akan merugikan umat Islam. Kondisi seperti ini terjadi di masa orde Baru, disaat parlemen dan pemerintahan dikuasai oleh kelompok sekuler. Sebenarnya benarkah anggapan seperti itu?

Mari kita kaji persoalan ini bersama. Tidaklah kemudian kelompok Islam atau parpol Islam dihalalkan melakukan kemaksiatan dengan alasan kekhawatiran ditindas atau ditekan, atau khawatir muncul kebijakan yang merugikan umat. Sikap seperti ini akan membuat parpol Islam bersikap kompromi terhadap penguasa yang ada, dan tidak berani bersikap terbuka terhadap kedzoliman penguasa yang ada.

Apa yang dicontohkan oleh Rosulullah adalah perkara yang jelas. Berbagai ancaman, intimidasi, bahkan pembunuhan yang menimpa terhadap pengikut Rosulullah dan Rosul sendiri, tidaklah membuat Rosulullah kemudian berkompromi dengan sistem yang ada dengan imbalan penguasa itu akan bersikap lunak. Rosullah dengan konsisten bersikap istiqomah dalam memegang teguh kebenaran Islam dan tidak menyimpang sedikitpun dalam garis perjuangannya.

Padahal, kalau menggunakan logika yang digunakan oleh sebagian kelompok Islam sekarang, Rosulullah saw pastilah memilih tawaran kekuasaan yang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy, berkompromi demi menyelamatkan pengikutnya yang disiksa. Tapi Rosul tidak melakukan itu.

Secara fakta juga, argumentasi ini bisa diperdebatkan kebenarannya. Tidak ada jaminan duduknya para anggota parpol Islam di parlemen atau dipemerintahan menjamin tidak adanya tekanan terhadap perjuangan Islam yang ingin menegakkan syariat Islam secara kaffah. Di Turki, misalnya, Partai Keadilan dan Pembangunan yang disebut-sebut partai Islam sebagai ganti dari partai Raffah, malah menangkapi pejuang-pejuang Islam yang ingin menegakkan syariat Islam dengan menegakkan Daulah Khilafah. Demikian juga untuk kasus Indonesia, adanya anggota parpol Islam yang duduk diparlemen atau pemerintahan tidak bisa berbuat banyak, saat beberapa pejuang yang ingin menegakkan syariat Islam, ditahan dan ditangkapi, bahkan ada yang diculik.

Bisa dipahami, sebab parpol Islam itu , meskipun menguasai parlemen dan pemerintahan seperti di Turki , tidak memiliki kekuasaan yang sesungguhnya. Tetap saja yang memiliki kekuasaan adalah pihak militer yang menjadi pembela sekulerisme di Turki. Dalam kondisi seperti ini, parpol Islam akan dihadapkan pada dua pilihan, secara terbuka menentang sekulerisme yang berakibat mereka akan diturunkan secara paksa oleh kekuatan sekuler yang belum sadar. Atau mengikuti permainan dalam sistem sekuler untuk mengamankan posisinya. Meskipun harus mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Islam dan bertentangan dengan Islam.

Ditambah tidak adanya dukungan yang nyata dari rakyat secara keseluruhan yang memiliki kesadaran politik untuk memperjuangkan syariah Islam. Akan membuat posisi parpol Islam tetap lemah meskipun mereka mayoritas duduk diparlemen atau pemerintahan.

Dengan demikian , hal sesungguhnya yang bisa mencegah adanya peminggiran dan penindasan terhadap pejuang Islam adalah tegaknya sistem Islam itu sendiri yang didukung oleh pemilik kekuasaan yang sesungguhnya seperti militer dan dukungan rakyat. Bukan mayoritas atau tidak diparlemen atau pemerintahan. Selama tidak dalam sistem Islam yang didukung oleh rakyat dan pemilik kekuasaan yang nyata di tengah masyarakat, akan selalu muncul penindasan terhadap pejuang Islam .

Demikian juga munculnya hukum atau kebijakan yang merugikan umat Islam dan bertentang dengan hukum syara’ adalah buah dari sistem sekuler yang dipraktekkan. Artinya, selama dasar pengambilan keputusan bukan hukum syara’, pastilah selalu akan muncul kebijakan yang merugikan umat Islam atau hukum yang bertentangan dengan syariat Islam.

Memang benar, dalam beberapa hal, terkesan sistem sekuler yang ada menampung aspirasi umat Islam. Seperti yang terjadi dalam RUU sisdiknas , dimana beberapa pasal yang sejalan dengan aspirasi umat Islam berhasil digolkan. Namun perlu dicatat, hukum yang digolkan itu pastilah dalam perkara yang parsial atau yang dianggap tidak banyak mempengaruhi keberlangsungan sistem sekuler yang ada. Dalam perkara-perkara yang urgen dan mengancam sistem sekuler yang ada, pastilah tidak akan diterima. Tidak mengherankan kalau uu yang dikatakan merupakan aspirasi umat Islam tersebut baru sebatas penggunaan kata taqwa dalam UU sisdiknas atau masalah pernikahan. Yang jelas tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap perubahan sistem kufur yang ada.

Dan perlu dicatat, kalaupun parlemen atau pemerintahan menampung aspirasi umat Islam, bukanlah menjadi alasan untuk menghalalkan duduk diparlemen atau pemerintahan yang bertentangan dengan Islam. Sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT tidak akan pernah berubah meskipun kelihatan hal itu memberikan manfaat yang parsial terhadap umat Islam. Seperti tidaklah kemudian sistem demokrasi yang berdasarkan kedaulatan ditangan rakyat menjadi halal, karena sampai batas tertentu, demokrasi memberikan kebebasan untuk berdakwah.

Sementara juga patut dipertanyakan argumentasinya secara syari’i maupun fakta. Memang umat Islam harus bisa membuktikan dan memberikan teladan bahwa mereka mampu mengelola negara, tapi bukan berarti mereka harus terlibat dalam sistem kufur yang ada. Rosulullah adalah contoh yang jelas, menolak tawaran kekuasaan orang-orang kafir Quraish, sebab kekuasaan itu masih tunduk kepada sistem jahiliyah yang ada. Bukankah kalau logikanya ingin memberikan contoh, melatih dan sebagainya, Rosululloh akan meneriwa posisi jabatan itu.

Sebab adalah sangat jelas anggota parpol Islam, tidak akan pernah bisa memberikan teladan kepada umat saat mereka bermain dalam sistem kufur. Masuknya mereka kepada sistem kufur saja, menunjukkan mereka telah tidak memberikan tauladan yang baik kepada umat dengan melanggar syariat Allah.

Apalagi, sudah diketahui umum, anggota parpol yang masuk ke dalam sistem justru sering terjebak dalam sistem tersebut. Seperti terlibat dalam money politic. Merekapun sering bungkam terhadap kezoliman penguasa dengan alasan koalisi dengan partai penguasa atau untuk kepentingan kompromi. Merekapun kemudian sering membuat pernyataan yang berubah-ubah dan membingungkan umat , mengingat kompromi yang sudah dilakukan dengan partai-partai sekuler. Teladan itu hanya bisa diberikan oleh umat Islam kalau mereka berhukum pada hukum Islam dalam sistem Islam tentunya.

Ada juga sebagian dari mereka yang beranggapan bahwa ini hanyalah takti semata (hidden agenda), mereka berfikir jika berhasil menguasai parlemen, maka mereka akan mengubah bentuk negara ini untuk menerapkan syariat Islam. Namun mereka tak mau mengkampanyekan di panggung2 politik mereka selama kampanye. Alasan yang pernah ana dengar adalah supaya masyarakat tidak kabur dan untuk menarik simpati masa seperti untuk perlindungan dakwah itu sendiri.

Kondisi ini bisa terjadi, kalau parpol Islam menang mayoritas bukan karena mereka menawarkan negara dan aturan Islam dalam kampanye mereka. Artinya, rakyat memilih mereka bukan karena rakyat sadar bahwa parpol Islam itu bertujuan mengganti sistem sekuler yang ada menjadi sistem Islam atau parpol Islam ini menjelaskan keburukan dari sistem sekuler yang ada. , tapi karena karena isu-isu lain yang menarik hati masyarakat seperti moralitas, isu korupsi, kkn, yang tidak dikaitkan dengan syariat Islam.

Selama kesadaran ditengah masyarakat tetap menganggap sistem sekuler sebagai sistem yang ideal yang harus dipertahankan, keinginan parpol Islam untuk merubah sistem sekuler itu menjadi sistem Islam akan mendapat tantangan dari rakyat sendiri yang belum sadar. Bisa-bisa mereka menganggap wakil rakyat itu telah berkhianat kepada mereka, sebab telah menyalahgunakan suara yang mereka berikan untuk perkara lain.

Sebab, berubah atau tidaknya sebuah sistem sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat tentang buruknya sistem yang ada dan kesadaran mereka untuk mengganti sistem yang rusak itu menjadi sistem yang baru. Oleh karena itu, kalaupun parpol Islam ingin menjadikan pemilu ini sebagai sarana perubahan menuju tegaknya negara Islam , mereka seharusnya secara terbuka menyerang sistem kufur yang ada dan menjelaskan secara gamblang kewajiban mendirikan negara dan aturan Islam. Sehingga muncul kesadaran umum ditengah masyarakat. Namun, sayang parpol Islam yang sekarang tidak memilih jalan itu. Ditambah lagi sistem demokrasi tidak akan memberikan peluang untuk itu.

Karena itu, hanya aktivitas politik yang dilakukan oleh Rosulullah yang harus dijadikan pedoman yang ingin terjun dalam aktivitas politik. Dimana metode yang menonjol adala selalu mengkaitkan pengaturan urusan-urusan umat dengan hukum-hukum Islam. Beberapa aktivis politik Rosullah antara lain:

1. Membina umat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahan pemikiran di tubuh umat.

2. Menyerang ide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkar kepalsuaannya dan pertentangannya dengan Islam . Dengah demikian umat akan menolak hukum-hukum tersebut dan mengantikannya dengan sistem Islam.

3. Membongkar kedzoliman dan kebejatan penguasa-penguasa yang ada ditengah-tengah umat. Rosullah saw menyerang Abu Jahal dan Abu Lahab dengan mengungkap kedzoliman dan penghianatannya terhadap umat.

4. Mendatangi elit-elit politik dari berbagai kabilah yang berpengaruh , mengajak mereka masuk Islam dan agar mereka menyerahkan kekuasaan kepada Islam . Dengan demikian hukum-hukum Islam bisa ditegakkan lewat kekuasaan.


Kesimpulan

Aktivitas politik muslim haruslah bermuara pada tiga perkara penting yang menjadi kunci perubahan: pembentukan kader yang ideologis, membangun kesadaran masyarakat, dan dukungan kelompok dan tokoh-tokoh terkemuka yang memiliki kekuatan di masyarakat. Inilah yang paling penting untuk dilakukan. Jadi tidak ada hubungan yang signifikan dengan ikut pemilu atau tidak. Inilah kunci keberhasilan tegaknya Daulah Islam yang akan menerapkan hukum-hukum syara’ secara kaffah dan menyeluruh. Sekaligus, hal ini akan memberikan perlindungan yang nyata bagi umat Islam terhadap kebijakan yang merugikan mereka.

Semoga tulisan pendek ini kembali menyadarkan kalian wahai saudaraku….

Samarinda, 18 Januari 2010
Pukul 21.34 wita




Adi Victoria

disarikan dari berbagai sumber.

~Jebakan Kursi Parlemen Pada Gerakan-Gerakan Islam Dunia~

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada sebagian gerakan-gerakan Islam yang memilih jalur parlemen untuk melakukan sebuah perubahan. tentu saja beragam alasan yang mereka gunakan sebagai “dalih” atas aktivitas tersebut. sebut saja statement “kita harus masuk ke dalam parlemen agar orang-orang kafir jangan sampai menang dan membuat kebijakan yang merugikan umat Islam” dan lainnya.

benarkah anggapan seperti itu?


Di indonesia khususnya, perlu ditelaah perubahan sejauh apa yang mungkin bisa dilakukan melalui Pemilu? di Indonesia sendiri, Pemilu tidak didesain untuk terjadinya perubahan yang sangat mendasar atas konsitusi negara. Di samping itu, apa pun cita-cita kita, termasuk tegaknya syariat, pasti memerlukan kekuatan. Tentang hal ini, perlu di lihat ternyata sumber kekuatan terbesar, yaitu masyarakat, justru tidak atau belumlah tergarap secara sungguh-sungguh bagi perubahan ke arah Islam. Maka, bila kita berbicara tentang 4 fungsi partai politik, yakni representasi yang kemudian melahirkan kegiatan legislasi, edukasi, artikulasi, dan agregasi, Mengapa 50% lebih masyarakat Indonesia lebih memilih partai sekular? Ini jelas karena umat tidak paham bagaimana harus memilih. Ketidakpahaman ini berakar pada problem edukasi yang tidak mereka terima secara semestinya selama Orde Baru dan Orde Lama dulu.

kemudian kalau kita berbicara pada tataran parlemen di dunia, Selama 40 tahun, 86 pemilihan parlemen di 20 negara telah menyertakan satu atau lebih partai-partai Islam, menurut laporan tahunan dari Inter-Parliamentary Union. Delapan puluh persen dari partai-partai Islam ini yang diterima kurang dari 20 persen suara, dan mayoritas mendapat kurang dari 10 persen—hampir tidak layak untuk meraih kemenangan. Hal yang sama berlaku bahkan selama beberapa tahun terakhir, dengan angka yang nyaris tidak berubah sejak tahun 2001. Benar, partai-partai Islam telah memenangkan beberapa terobosan dengan baik, seperti di Aljazair pada 1991, dan Palestina pada tahun 2006. namun lihatlah faktanya, ketika kedua partai tersebut meraih kemenangan, apa yang terjadi??? kafir barat dan sekutunya tidak akan memberikan ruang bagi partai Islam untuk menang dan memiliki kekuasaan di parlemen, kecuali partai tersebut mau “tunduk” pada aturan main kaum kafir.

Disamping itu karena fakta menunjukan perubahan total tidak pernah terjadi melalui jalan parlemen. Kalaupun bisa terjadi bersifat parsial. Karenanya, perjuangan melalui parlemen bukanlah metode untuk melakukan perubahan total. Parlemen tidak dapat dijadikan sebagai metode perubahan. Sebab, metode perubahan melalui parlemen hanya bersifat teoritis belaka bukan praktis. Selain itu, pemilu bukanlah metode perubahan yang telah ditempuh oleh Rasul saw. ketika mendirikan pemerintahan Islam.

Selain itu, fakta di Indonesia juga menunjukkan bahwa partai-partai politik dan anggota parlemen sejak awal telah melihat keharusan mereka untuk terikat dengan Sekularisme Kapitalisme beserta produk perundangan-undangannya. Ini artinya, pemilu di Indonesia tidak diadakan dalam rangka melakukan perubahan mendasar apapun. Tapi jauh lebih sering, partai-partai Islam cenderung melakukan implikasi yang sangat buruk. Setelah pemilu usai, partai Islam dihantam stigma sebagai partai-partai yang sama dengan partai lainnya juga yang sekuler dan nasional, atau kiri. jadi jangan heran jika ada anggapan bahwa partai sekarang susah untuk di bedakan yang mana partai Islam dan yang mana partai sekulre/kiri. pun juga di negeri ini. karena yang menentukan sebuah partai itu Islam atau tidak bukanlah anggotanya yang seratus 100% Islam dan “aktivis” namun adalah visi dan misi apa yang di bawa. kalo toh ternyata sama saja dengan partai sekuler yang tidak jelas visi dan misisnya ya jangan heran ada anggapan seperti itu. sayangnya pula kalo kita berbicara anggota partai Islam, tidak ada satupun di negeri ini anggota/kader partai Islam yang anggotanya 100% adalah Islam, sedangkan di dalam Islam haram hukumnya menerima non muslim menjadi kader bagi sebuah partai Islam.

Partai rata-rata persentase kursi yang dimenangkan oleh partai-partai Islam dalam pemilihan umum yang realtif bebas adalah 10 poin lebih rendah dibandingkan dengan yang kurang bebas. Bahkan jika mereka tidak menang, partai-partai Islam sering menemukan diri mereka sendiri diliberalisasi oleh proses pemilihan. Platform partai Islam cenderung berfokus pada hukum syariah dalam pemilihan untuk menegakkan demokrasi dan hak-hak perempuan. Dan bahkan di beberapa negara yang otoriter, platform partai Islam telah bergeser selama beberapa pemilu, ke arah yang lebih liberal posisinya: sekadar contoh, Partai Keadilan dan Pembangunan Maroko dan Front Aksi Islam Yordania. Keduanya melucuti hukum syariah dari platform mereka sendiri selama beberapa tahun.

sebenarnya dakwah di parlemen itu boleh saja, asalkan benar-benar membawa dakwah Islam yang sesungguhnya ( da‘wah li isti’nâfi al-hâyah al-islâmiyyah atau dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam, yakni upaya untuk mengembalikan umat pada pengamalan seluruh hukum-hukum Islam; baik oleh individu, kelompok, maupun oleh negara). apa itu?

yakni yang harus dilakukan oleh parpol Islam adalah:

Pertama, tegas menyatakan bahwa visi dan misinya adalah untuk mewujudkan kehidupan Islam dan mengganti sistem Demokrasi sekular ini menjadi sistem Islam.

kedua, sungguh-sungguh melaksanakan semua fungsi parpol, terutama fungsi edukasi, agar secepatnya terwujud kesadaran politik Islam di tengah-tengah masyarakat. Hanya melalui cara ini, kita bisa memiliki kekuatan untuk mewujudkan perubahan mendasar tadi.

jika saja ada partai Islam di parlemen tahun 2014 nanti yang membawa visi itu insya Allah suara saya akan menjadi milik anda
hehehe ^_^

Sudah saatnya partai Islam yang memilih jalur parlemen untuk segera sadar dan keluar dari jebakan-jebakan kursi di parlemen terlebih lagi keluar dari jebakan ide busuk demokrasi yang khayali. mari kembali ke thariqah dakwah yang telah Rasulullah tinggallkan. jangan sampai dengan masuk ke dalam parlemen dan terjebak pada permainan bagi-bagi jatah kursi akhirnya bergerak meninggalkan ranah pembinaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun.

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagimu yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” [Al Ahzab:21]

Samarinda, 16 januari 2010
pagi yang indah 08.30 wita

Adi Victoria,



Disarikan dari berbagai sumber.

Jalan Cinta Para Pejuang

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Salim A. Fillah

~menapaki langkah perjuangan~

Di jalan ini telah menapak kedua kakiku
Di saat kaki yang lain merasa enggan
Di saat jiwa yang lain merasa segan
Takut akan halang dan rintang
Entahlah, sering kubertanya…
Apakah daya ini akan terus ada??
Apakah bara semangat ini kan terus menyala??
Menggenggam mabda’ yang terus membara??

Atau kemudian akan padam dan layu??
Aku tergugu dan membisu??

Sebuah asa…
Setitik perjuangan…
Sejengkal perjalanan..
Sebilah pengorbanan..

Apakah akan dipertaruhkan hanya karna kita tak sanggup lagi??
Apakah kefuturan telah mengalahkan semangat hati??
Hingga tak sadar jadi seonggok besi
Putus asa menjadi hal yg pasti

Namun asa itu tak akan pernah mati
Ia butuh kesungguhan hati
Demi sebuah perjuangan tegaknya kalimat Illahi Rabbi
Allahu akbar !!

[abel vihani]

~menemui cinta diujung senja~

Bila..
Sebuah masa telah tiba
Datang tanpa rencana
Bila..
Sebuah masa telah menjadi sebuah kepastian
Namun selalu terlupa dalam kehidupan
Bila..
Persiapan belum sempurna
Namun penjemput menghampiri di muka

Membuatku tercekat
Terperanjat
Hingga terasa jantungku ingin meloncat
Mataku keluar mencelat

Menatap nanar
Hilang sudah semua binar
Yang ada hanyalah onar

Teringat masa yg hingar bingar
Teringat masa yang telah terhampar

Menjadi catatan yang kian berakar
Yang mungkin tak pernah mereka dengar
Tentangku si manusia pijar

Selalu, selalu dan selalu
Mereka anggap aku sempurna
Tak bercela
Tak ada tandingannya
Membuatku lupa
Terlena
Karna perkata

Bila waktu itu telah tiba
Hilang anak dalam kalbu seorang ibu
Terputus saudara karna dosa
Terlupa ikatan karena waktu

Dan itu akan terjadi nyata, Saudara
Tak ada yang patut di banggakan
Wajah nan indah kelak kan menjadi keriput
Mata yang tajam menatap kelak kan menjadi rabun
Tak ada yang patut dibanggakan
Bila terlahir terbungkus ari-ari,
Kemudian memakai dasi, maka kelak kan bersama kafan pembungkus diri

Tak ada yang patut dibanggakan
Karna jiwa ini selalu dalam genggaman
Sang Pengatur Lintasan
Bagi makhluk bernama insan

[abel vihani]

Inilah aku...


Aku….
Adalah aku…
Dengan segala kekuranganku…

Aku adalah aku…
Yang selalu berusaha bertahan dalam sebuah asa…

Aku adalah aku….
Yang selalu berusaha meraih sebuah cita…

Aku adalah aku…
Yang selalu berusaha untuk selalu berfikir dan memahami dari sebuah fenomena

Aku adalah aku…
Yang selalu mencoba untuk selalu berada dijalan ini…
Dijalan yang selalu orang anggap asing…

“Islam dimulai sebagai sesuatu yang asing; dan akan kembali sebagai sesuatu yang asing. Beruntunglah bagi orang-orang yang terasing. “Para sahabat kemudian bertanya: ‘Siapa orang-orang asing Yaa Raslulullah?’ ‘Mereka adalah orang-orang yang mencegah yang munkar ketika orang-orang mulai melakukan kerusakan.’”

Aku adalah aku…
Yang selalu berusaha menjadikan sebuah mabda’ dalam genggamanku
Sebuah mabda’ yang akan terus membara dan menjadi api pembakar ghirah perjuanganku…

Aku adalah aku…
Yang selalu bertahan pada sebuah penantian panjang dan kerinduan yang amat sangat…
Kerinduan akan naungan syariatNya….

Aku adalah aku…
Yang akan memperjuangkan agar kerinduan itu menjadi sirna…
Kerinduan yang sirna yang menjadi sebuah kepastian…

Aku adalah aku…
Yang ini menjadi bagian dari orang-orang yang telah Allah sebutkan dalam firmanNya…
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(24:56)


"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." Beliau kemudiannya diam. [HR Ahmad dan al-Bazar]


~SEGENGGAM TABAH DAN SEBENTUK MABDA' SEMOGA SELALU MENJADI BEKAL DALAM PERJALANAN~


Samarinda, 04.45 wita dini hari

ngantuk pisan euy

Ramadhan Momentum Menikmati Hidangan Dari Allah


Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya al-Qur’an ini merupakan hidangan Allah, maka terimalah hidangan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya al-Qur’an ini merupakan tali (agama) Allah yang kokoh, cahaya yang terang, dan obat yang mujarab. Sehingga, siapa pun yang berpegang teguh dengannya pasti akan terlindungi, dan siapa pun yang selalu mengikutinya pasti akan sukses. Al-Qur’an mengingatkan orang yang berbuat salah dan mengembalikan orang yang tersesat. Kehebatan al-Qur’an tidak akan pernah habis dan tidak pula usang meski banyak orang yang menolaknya. Bacalah al-Qur’an, sebab Allah akan memberi pahala kepada yang membacanya, yaitu sepuluh kebaikan untuk setiap hurufnya.”

Hidangan dari Allah ini, ibaratkan makanan merupakan yang paling lengkap kandungan gizinya, dan obat yang paling mujarab dan berkhasiat. Namun, hidangan yang begitu sempurnanya ini kurang diminati, dan disia-siakan. Mungkin, inilah keadaan yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW.: “Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang disia-siakan’.” (QS. Al-Furqan: 30).

Manusia beragam dalam menyia-nyiakan hidangan dari Allah ini, sesuai keadaan masing-masing. Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Seseorang dikatakan menyia-nyiakan al-Qur’an jika ia tidak mau membacanya. Seseorang yang sudah terbiasa membacanya masih dikatakan menyia-nyiakannya jika ia tidak mau memahami kandungannya. Dan seseorang yang sudah terbiasa membacanya dan telah memahami kandungannya juga masih dikatakan menyia-nyiakannya jika ia belum mengamalkannya.”

Setiap manusia tentu ingin hidup bahagia jauh dari bencana. Namun, apabila yang ia makan adalah makanan yang kurang baik dan tidak bergizi, serta kehalalannya tidak jelas lagi, maka jangan berharap akan hidup sehat yang membahagiakannya, justru yang terjadi malah sakit-sakitan. Tentu dalam keadaan yang demikian, dapat dibayangkan, pasti hidupnya menderita dan sengsara, sehingga hidupnya terasa sempit.
Allah SWT. berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Dalam tafsir al-Qurthubi dikatakan ‘berpaling dari peringatan-Ku’, yakni berpaling dari agama-Ku, dari membaca kitab-Ku dan dari mengamalkan isinya.
Bulan Ramadhan merupakan momentum untuk mulai mencicipi dan menikmati hidangan dari Allah, sebab di bulan inilah hidangan itu diturunkan, yakni di bulan ini mulailah membiasakan diri membaca Al-Qur’an, memahami kandungannya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga hidup sehat bukan sekedar impian tapi kenyataan. Sebab, selezat apapun makanan itu jika kita tidak memakannya, maka kita tidak akan pernah merasakan kenikmatannya. Wallahu a’lam bish-shawab. [Muhammad Bajuri]

sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/28/ramadhan-momentum-menikmati-hidangan-dari-allah/

samarinda, 04.05 wita dini hari

~segenggam tabah~


Bertali arus dugaan tiba

Menakung sebak airmata

Namun tak pernah pun setitis

Tidak ditempah hidup sengsara

Suratan nasib yang melanda

Menongkah badai bergelora

Diredah bersendirian

Bagaikan camar pulang senja

Patah sayapnya tetap terbang jua

Sekadar secicip rezeki

Buat yang sedang rindu menanti

Segenggam tabah dipertahankan

Buat bekalan di perjalanan

Kau bebat luka yang berdarah

Kau balut hati yang calar

Telah tertulis suratan nasibmu

Derita buatmu ada hikmahnya

Terlukis senyum di bibir lesu

Tak siapa tahu hatimu

Biarpun keruh air di hulu

Mungkinkah jernih di muara

Biarpun jenuh hidup dipalu

Pasti bertemu tenangnya

~segenggam tabah~
copas, samarinda 04.00 wita dini hari.

~Jika Aku Pulang.... ~


Jika aku pulang saat ini...
ku mohon titip kan salam ku pada umi ku..

jika aku pulang saat ini...
tolong titip cium hangat di kening abi ku...

umi yang selalu setia menunggu hingga larut malam di setiap malam-malamku...

umi yang selalu tertidur di kasurku dan terbangun saat mendengar suara motorku...
umi yang selalu ... T_T

umi yang selalu tersenyum melihat gayaku menyisir rambut di depan cermin

umi yang selalu berkata "jangan ngebut kalo naik motor Di... "

umi yang pernah tidak tidur semalaman karena menjaga ku yang sedang sakit

umi yang selalu menyuruh sarapan sebelum berangkat kerja

umi...
Seorang ibu yang sering bohong kalau ia sudah kenyang jika aku minta makan. Yang pernah bohong ia tidak pernah lelah mengasuhku...

Dan abiku...

seorang laki-laki kekar dan perkasa di hadapanku...

masih teringat dengan senyum manisnya yang merekah saat keringatnya masih mengalir lewat pipinya yang sudah keriput...

masih teringat kata-katanya "jangan seperti bapak ya nak..."

masih teringat masa-masa itu...
saat masuk hutan dan keluar hutan hanya untuk mencari sesuap nasi.
masih teringat dengan jelas difikiranku air mata beliau yang mengalir saat merasa lelah, entah apa yang difikirkannya pada waktu itu...

dan kepada kakakku dan adik yang sangat kusayangi....
sungguh takkan terlupakan masa-masa kecil kita dulu.
tinggal di hutan
rumah berlapiskan kulit kayu ^_^
bercengkrama bersama...
jauh dari hiruk pikuknya kota dan keramaian....
yah..
namanya juga di hutan he he he
walau terkadang kita dulu juga sering bertengkar...
yah..
itulah saudara...
kata orang gak rame jika gak bertengkar ^_^

jika aku pulang saat ini...
maka,
maafkan atas semua salahku ya abi dan umi....
terimakasih karena telah merawat dan mendidiku hingga menjadi seperti ini
masih banyak yang belum dapat ku berikan untuk mebuat kalian tersenyum...

Selebihnya, akan kupersembahkan terima kasihku kelak jika kita bertemu di surga...

Jika aku pulang...
Aku berdoa semoga bisa bertemu di sana ya…Untuk semua sahabat, sejak kecil sepermainan, ketika bersama-sama berangkat sekolah bersama, rekan-rekan kerja yang tak bosan untuk terus bercanda dan bekerja sama. Untuk semua atasan yang saya hormati, dan (maaf) terkadang aku benci karena sesuatu hal. Terima kasih semua dan mohon maaf.


Anakmu dalam perjalanan,



Adi Victoria

~Mencintai dengan sempurna~

Malam menjelang tidur, kembali sebuah sms dari seorang sahabat membuatku merenung....”

”Kita hidup bukanlah mencari seseorang yang sempurna untuk kita cintai, namun kita belajar untuk mencintai orang yang tidak sempurna dengan sempurna.”

Kalimat yang begitu sederhana...tapi tidak sesederhana maknanya....
Ku eja..setiap kata-katanya dengan perlahan lalu ku coba untuk memahami maknanya.....
Dan....ada tetes-tetes yang tak terbendung dari tiap sudut mataku.........
Entah...oleh sebab apa aku harus menangis seketika itu.....
Yang pasti aku merasakan tamparan keras pada hatiku....

Hingga kini aku tetap menyakini bahwa segala sesuatu terjadi pasti dengan idzinNya...dan BUKAN tanpa maksud....

Kali ini Allah mengajariku satu hal melalui seorang teman...lewat sms nya tadi...
Bukan tanpa sebab Alloh menggerakkan jari akhi itu untuk mengirimkan sms tersebut,. Ia mengirim tanpa ada obrolan apapun tentang tema itu sblmnya...tidak satu jam yg lalu, tidak satu hari yang lalu, tidak satu minggu yang lalu, tidak pula satu tahun yang lalu.

Ketika di tanya mengapa ia mengirimkannya untuk saya...hanya satu kalimat sederhana yang diungkapkan olehnya : ”Ketika saya membacanya dari sebuah web muslim, saya langsung teringat akhi..saya kutip dan saya simpan dalam draf sms...dan malam ini saya sms kan...hanya ke satu no. Tujuan...”

”Just it. ”

Percayakan anda?
Malam itu sebelum menerima sms dari nya, saya sedang asyik dan serius membuat konsepan rumah tangga yang ideal untuk saya di masa depan. Paling tidak untuk 3 tahun pertama di kehidupan kami ke depan. Saya mencoba membuat planing-planing ke depan.
Bagaimana saya, isteri saya, keluarga besar kami, konsepan pendidikan anak-anak, aktifitas saya berikutnya dan bla...bla...bla...
Ya...saya sedang belajar bermimpi...dan lalu berikhtiar semaksimal mungkin untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Saya merencanakannya sendiri...tanpa calon isteri saya...mengapa???
Karna sampai kini ”dia” masih abstrak dan masih menjadi misteri bagi saya...:)
Mungkin bagi anda, saya melakukan hal yang sia-sia?? Atau mungkin lucu? Atau hanya membuang waktu saja ??.

Tapi bagi saya : tidak !!
Kehidupan sangat penting untuk direncanakan…jauh hari sebelumnya…..
Karna perencanaan adalah bagian dari kesuksesan…bukankah begitu ???
Dan malam itu Alloh langsung menegur saya lewat sebuah sms….
Anda tau kenapa ???

Karna saya mengharapkan kesempurnaan atas segala sesuatunya. Termasuk atas seseorang yang akan saya cintai di kemudian hari. Saat itu saya membuang jauh ”ketidaksempurnaan’. Meski saya sadar sepenuhnya : memang kita tidak akan menemukan mahlukNYA yang sempurna.

Malam itu juga, Alloh mengingatkan saya pada ketiga laki2 sholeh yang luar biasa. Mereka TIDAK SEMPURNA secara fisik, tapi akhlak, kesholehan dan perjuangan hidupnya membuat setiap orang berdecak kagum atasnya. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan saya. Teman sekaligus abang bagi saya. Saudara seiman yang sangat layak untuk ditauladani bagi saya dan juga siapapun juga.


Dan Alloh menegur saya untuk mulai belajar memahami, untuk bisa menyiapkan hati manakala kondisi itu dihadapkan pada saya. Saya juga harus berani membuat planning planing-planing alternatif sesuai kondisional dan capabilitas mereka.

Saya yakin setiap kita memahami bahwa Alloh menilai setiap kita bukan karna penampilan luarnya, tapi Alloh menilai pada hati kita. Sekali lagi tidak seharusnya fisik menjadi takaran bagi kita. Tapi setiap kita masih harus belajar ikhlas untuk menerima ketidaksempurnaan. Belajar ....iya...belajar.

Teringat salah seorang jamaah pengajian aa Gym. Jika tidak salah namanya ”Gun”. Beliau adalah seorang yang cacat fisik. Bahkan ia mengalami kesulitan berkomunikasi. Untuk pergi ke Darul tauhid beliau harus beberapa kali naik turun angkot dan tetap butuh gendongan orang lain. Tapi itu smua tak menyurutkan motivasi nya untuk berburu majlis ilmu. Ikhlas menjalani hidup begitulah sosoknya. Kini Gun telah mendapatkan bidadari dunianya. Seorang akhwat sholeha dan sempurna kini slalu mendampinginya dalam suka dan duka bersama mengarungi samudra kehidupan. Itulah anugrah yang Alloh berikan untuknya.

Satu lagi. Pasti kita semua mengenalnya : Ucok Ali Baba. Seorang entertaint yang juga cacat secara fisik. Tapi memiliki istri yang sempurna.

Istri Gun dan juga istri Ucok adalah wanita-wanita luar biasa yang mampu menyintai laki-laki yang tidak sempurna dengan cara yang sngat sempurna.

Belajar menerima dan memahami...mungkin hanya itu kata-kata yang terbaik untuk saya dan juga anda saat ini. Belajar mencintai segala sesuatu yang tak sempurna dengan sempurna.

Pendapat Syaikh Nashiruddin al- Albani tentang hukum memakai cadar


Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : "Bagaimana hukum
wanita
menutup muka (cadar) ?"

Jawaban.
Kami tidak mengetahui ada seorangpun dari shahabat yang mewajibkan
hal itu. Tetapi lebih utama dan lebih mulia bagi wanita untuk
menutup wajah. Adapun mewajibkan sesuatu harus berdasarkan hukum
yang jelas dalam syari'at. Tidak boleh meajibkan sesuatu yang tidak
diwajibkan Allah.

Oleh karena itu saya telah membuat satu pasal khusus dalam
kitab 'Hijabul Mar'aatul Muslimah', untuk membantah orang yang
menganggap bahwa menutup wajah wanita adalah bid'ah. Saya telah
jelaskan bahwa hal ini (menutup wajah) adalah lebih utama bagi
wanita.

Hadits Ibnu Abbas menjelaskan bahwa wajah dan kedua telapak tangan
bukan termasuk aurat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah
dalam 'Al-Mushannaf'.

Pendapat kami adalah bahwa hal ini bukanlah hal yang baru. Para
ulama dari kalangan 'As Salafus Shalih' dan para ahli tafsir seperti
Ibnu Jarir Ath-Thabari dan lain-lain mengatakan bahwa wajah bukan
termasuk aurat tetapi menutupnya lebih utama.

Sebagian dari mereka berdalil tentang wajibnya menutup wajah bagi
wanita dengan kaidah.

"Artinya : Mencegah kerusakan didahulukan daripada mengambil
kemanfaatan"

Tanggapan saya.
Memang kaidah ini bukan bid'ah tapi sesuatu yang berdasarkan
syari'at.
Sedangkan orang yang pertama menerima syari'at adalah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian orang-orang yang menerima
syari'at ini dari beliau adalah para shahabat. Para Shahabat tentu
sudah memahami kaidah ini, walaupun mereka belum menyusunnya dengan
tingkatan ilmu ushul fiqih seperti di atas.

Telah kami sebutkan dalam kitab 'Hijaab Al-Mar'aatul Muslimah' kisah
seorang wanita 'Khats'amiyyah' yang dipandangi oleh Fadhl bin 'Abbas
ketika Fadhl sedang dibonceng oleh Nabi Shallallahu 'laihi wa
sallam, dan wanita itupun melihat Fadhl. Ia adalah seorang yang
tampan dan wanita itupun seorang yang cantik. Kecantikan wanita ini
tidak mungkin bisa diketahui jika wanita itu menutup wajahnya dan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika itu memalingkan
wajah Fadhl ke arah lain. Yang demikian ini menunjukkan bahwa wanita
tadi membuka wajahnya.

Sebagian mereka mengatakan bahwa wanita tadi dalam keadaan ber-ihram,
sehingga boleh baginya membuka wajah. Padahal tidak ada tanda-tanda
sedikitpun bahwa wanita tadi sedang ber-ihram. Dan saya telah men-
tarjih (menguatkan) dalam kitab tersebut bahwa wanita itu berada
dalam kondisi setelah melempar jumrah, yaitu setelah 'tahallul' awal.

Dan seandainya benar wanita tadi memang benar sedang ber-ihram,
mengapa
Rasulullah tidak menerapkan kaidah di atas, yaitu kaidah mencegah
kerusakan .?!

Kemudian kami katakan bahwa pandangan seorang lelaki terhadap wajah
wanita, tidak ada bedanya dengan pandangan seorang wanita terhadap
wajah lelaki dari segi syari'at dan dari segi tabi'at manusia.

Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Katakanlah kepada orang laki-laki yang
beriman. 'Hendaknya mereka menahan pandangannya" [An-Nuur : 30]

Maksudnya dari (memandang) wanita.

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman. 'Hendaklah
mereka
menahan pandangannya" [An-Nuur : 31]

Maksudnya yaitu jangan memandangi seorang laki-laki.

Kedua ayat diatas mengandung hukum yang sama. Ayat pertama
memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah wanita dan ayat kedua
memerintahkan menundukkan pandangan dari wajah pria.

Sebagaimana kita tahu pada ayat kedua tidak memerintahkan seorang
laki-laki untuk menutup. Demikian pula ayat pertama tidak
memerintahkan seorang wanita untuk menutup wajah.

Kedua ayat di atas secara jelas mengatakan bahwa di zaman Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam ada sesuatu yang biasa terbuka dan
bisa dilihat yaitu wajah. Maka Allah, Sang Pembuat syari'at dan Yang
Maha Bijaksana memerintahkan kepada kedua jenis menusia (laki-laki
dan perempuan)untuk menundukkan pandangan masing-masing.

Adapun hadits.

"Artinya : Wanita adalah aurat"

Tidak berlaku secara mutlak. Karena sangat mungkin seseorang boleh
menampakkan auratnya di dalam shalat.[1]

Yang berpendapat bahwa wajah wanita itu aurat adalah minoritas ulama.
Sedangkan yang berpendapat bahwa wajah bukan aurat adalah mayoritas
ulama (Jumhur).

Hadits diatas, yang berbunyi.

"Artinya : Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syaithan
memperindahnya"

Tidak bisa diartikan secara mutlak. Karena ada kaidah yang berbunyi :

"Dalil umum yang mengandung banyak cabang hukum, dimana cabang-
cabang hukum itu tidak bisa diamalkan berdasarkan dalil umum
tersebut, maka kita tidak boleh berhujah dengan dalil umum tersebut
untuk menentukan cabang-cabang hukum tadi".

Misalnya : Orang-orang yang menganggap bahwa 'bid'ah-bid'ah' itu
baik adalah berdasarkan dalil yang sifatnya umum. Contoh : Di negeri-
negeri Islam seperti Mesir, Siria, Yordania dan lain-lain.... banyak
orang yang membaca shalawat ketika memulai adzan. Mereka melakukan
ini berdasarkan dalil yang sangat umum yaitu firman Allah.

"Artinya : Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk
Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" [Al-Ahzaab : 56]

Dan dalil-dalil lain yang menjelaskan keutamaan shalawat kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan dalil-dalil umum (yang
tidak bisa daijadikan hujjah dalam adzan yang memakai shalawat,
karena ia membutuhkan dalil khusus, wallahu a'lam, -pent-).

Mewajibkan wanita menutup wajah. Berdasarkan hadits : "Wanita adalah
aurat", adalah sama dengan kasus di atas. Karena wanita (Shahabiyah)
ketika melaksanakan shalat mereka umumnya membuka wajah. Demikian
pula ketika mereka pulang dari masjid, sebagian mereka menutupi
wajah, dan sebagian yang lain masih membuka wajah.

Jika demikian hadits diatas (wanita adalah aurat), tidak termasuk
wajah dan telapak tangan. Prinsip ini tidak pernah bertentangan
dengan praktek orang-orang salaf (para shahabat).


[Disalin dari kitab Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, edisi
Indonesia Fatwa-Fatwa AlBani, hal 150-154 Pustaka At-Tauhid]

Muhasabah cintaku kepadaMu -_-

Ya Aziz..........
Jika Cinta Adalah Ketertawanan
Tawanlah Aku Dengan Cinta Kepada-Mu
Agar Tidak Ada Lagi Yang Dapat
Menawanku Selain Engkau

Ya Rohim..........
Jika Cinta Adalah Pengorbanan
Tumbuhkan Niat Dari Semua Pengorbananku
Semata-mata Tulus Untuk-Mu
Agar Aku Ikhlas Menerima Apapun Keputusan-Mu

Ya Robbii..........
Jika Rindu Adalah Rasa Sakit
Yang Tidak Menemukan Muaranya
Penuhilah Rasa Sakitku
Dengan Rindu Kepada-Mu
Dan Jadikan Kematianku Sebagai
Muara Pertemuanku Dengan-Mu
Ya Robbii..........
Jika Sayang Adalah Sesuatu Yang Mempesona
Ikatlah Aku Dengan Pesona-Mu
Agar Damai Senantiasa Kurasakan
Saat Terucap Syukurku Atas Nikmat Dari-Mu

Ya Alloh..........
Jika Kasih Adalah Kebahagiaan
Yang Tiada Bertepi
Tumbuhkan Kebahagiaan Dalam Hidupku
Di saat Kupersembahkan Sesuatu Untuk-Mu

Ya Alloh..........
Hatiku Hanya Cukup Untuk Satu Cinta
Jika Aku Tak Dapat Mengisinya Dengan Cinta Kepada-Mu
Kemanakah Wajahku Hendak Kusembunyikan Dari-Mu

Ya Ar-Rahman.........
Dunia Yg Engkau Bentangkan Begitu Luas
Bagai Belantara Yg Tak Dapat Kutembus
Di Malam Yang Gelap Gulita
Agar Tidak Tersesat Dalam Menapakinya

Ya Ar-Rahhim…….
Berikan Alas Kaki Buat Hamba Agar Jalan Yg Kutapaki Terasa Nikmat
Meski Penuh Dengan Bebatuan Runcing & Duri Yang Tajam
Hamba Sadar Semua Ini Milikmu Dan Suatu Saat
Jika Kau Kehendaki Semuanya Akan Kembali Jua Kepada-Mu
Hamba pasrahkan kehidupan hamba kepada-Mu.

matikan aku dalam perjuangan
perjuangan menggapai syahid akan perjuangan ini
atau hidup mulia di bawah naungan syariatMu..
tuk menggapai cinta dan ridhaMu.

amin

Inilah jalanku....


Kubiarkan berbagai komentar itu menghantui hari-hariku, memenuhi relung jiwa nan kian mendesah payah karena rasa psrah atas kehendak yang Maha perkasa.

Mengiring langkah penuh pasti menggapai keingingan dan keyakinan yang kian membumbung.

”Antum tu kebanyakan yang diemban, coba konsen pada kepentingan sendiri…”

Terus dan terus kubiarkan masukan itu masuk ke telinga memenuhi gendang telinga dan diolah oleh tulang-tulang pendengaranku, namun tak sekalipun kuijinkan ia menembus otak melampaui hati untuk menjadi sebuah ungkapan kekecewaan. Sama sekali aku tak perkenankan.

Inilah jalanku…………….

Aku sedemikian bahagia melaluinya, menjalani hari demi hari dengan kelelahan yang kian bertambah. Tapi……………justru dengan kelelahan itulah semangatku masih tetap ada. Dengan jalan ini pula aku memiliki harapan yang banyak demi masa depanku, demi sebuah keyakinan akan pertolongan Allah dan demi sebuah imbalan luar biasa untuk bisa berkumpul dengan para syuhada. Sungguh, ini belum apa-apa dan belum seberapa dibandingkan apa yang telah dilakukan dan diberikan para sahabat kepada dan untuk islam. Apa yang aku pilih untuk aku tunaikan sebagai kewajibanku bukanlah suatu karya besar jika dibandingkan karya-karya para sahabat yang dijamin syurga untuknya tersebut.

Inilah jalanku……………..

Yang kuharap mampu mengantarkan langkah kakiku menuju singgasana keridhoanNYA, menatap wajahNYA tanpa hijab. Supaya diberiNYA aku kesempatan berkumpul dan bersilaturahim bersama sahabat, syuhada para anbiya dan kekasih-kekasihNYA tercinta. Sebagian di antara mereka berucap ”Apa dengan mengorbankan study sebegitunya? Menghabiskan waktu untuk amanah dakwah yang tak kunjung mereda? Sampai kapan akan begitu terus?” kata mereka. Bagaimanapun juga aku menghargai kepedulian mereka kepadaku dengan mengingatkan aku, tapi inilah jalanku……………..jalan dakwah yang kupilih untuk mendampingi perjalanan hidupku yang tidak jauh lebih berharga dibanding hari sesudah kematianku.

Pada dasarnya banyak pilihan bagiku………….

Bila aku mau, aku bisa memilih untuk meninggalkan sama sekali amanahku di luar yang tidak hanya satu untuk hanya menekuni kuliahku. Bisa saja aku menghabiskan waktuku 24 jam di perpustakaan untuk menelan sekian banyak buku menjadi bagian dari kesuksesan studyku, menjadi seorang yang berkutat dengan program-program komputer. Tak sulit bila aku ingin memilih undur diri dari wajihah ini dan itu untuk berkonsentrasi penuh dengan studyku. Sungguh, itu adalah satu pilihan yang ada di depan mataku.

Namun aku meyakini…………….

Bahwa ketika Allah memberikanku nilai D yang artinya tidak lulus maka Allah sedang mengujiku karena aku dianggap mampu menghadapi ujian itu. Pun ketika Allah menjadikan satu dari sekian banyak mata kuliahku bernilai E dan lantaran itu aku menjadi harus memperpanjang masa kuliahku satu tahun lagi, maka aku tancapkan dalam hatiku bahwa itu semata-mata bukan karena amanahku di dalam dakwah, tapi hanya karena IA ingin menguji aku dan dianggap aku mampu. ”Bisa jadi antum disuruh Allah menuntaskan amanah yang belum kelar” begitu ungkap satu orang ikhwah dekatku.

Aku menghargai mereka………..

Yang memilih menghilang dari peredaran dakwah lantaran kesibukannya di dakwah semester lalu telah menyita waktunya sehingga tidak sempat belajar lagi (versi dia). Dengan hanya berkonsentrasi belajar ia berharap bisa lulus segera dan ”NANTILAH” bila sudah lulus saya akan berkontribusi di dakwah. Yah………….itu adalah pilihannya dan aku menghargainya, tapi tidak begitu dengan aku. Karena aku berfikir bisa jadi usiaku tidak menyampaikanku pada kesuksesan cita yang kuinginkan, lantas dengan alasan apa aku menunda kontribusiku demi menunggu waktu aku menggapai cita-cita studyku? Sungguh tak ada alasan bagiku.

”Jangan menjadi lilin? Apa dengan mengorbankan kepentingan sendiri begitu?”

Aku berpikir memang dengan ungkapan itu, jangan-jangan aku memang telah menjadi lilin yang berusaha menerangi orang lain tapi aku leleh perlaham. Tapi, kembali kesadaranku berbicara bahwa ungkapan itu jangan-jangan juga hanya sebagai alasan keMANJAanku saja. Bukankah Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya untuk jihad dan hanya meninggalkan Allah dan RasulNYA untuk keluarhanya? Apakah itu kita bilang sebagai mengorbankan kepentingan sendiri? Apakah Abu Bakar kita sebut sebagai lilin?? Tidak bukan????Sedemikian besar yang para sahabat korbankan dan tak satupun yang ditegur rasul lantaran alasan ”Kamu jangan mengorbankan dirimu” tidak…………sama sekali tidak. Nah…..kita?? sedikit-sedikit kita bilang, ”jangan terlalu berkorban sebegitunya”……………kok bisa gitu lho!!! Aku merasa malu sendiri dengan ungkapan itu. Sebuah upaya mencari pembenaran agar bisa bermanja dan tidak terlalu banyak berkorban. Naudzubillah!!! (Afwan ini pandangan subyektif saya)

Inilah jalan yang kupilih…………

Dengan jalan ini pula semangat di otakku masih bisa disetting untuk terus bersemangat. Dengannya pula kakiku mampu melangkah ke tempat-tempat yang secara logika aku enggan menggapainya lantaran jauh dan susah. Dengan jalan ini pula aku mampu bergaul dan tersenyum kepada banyak orang karena mengharap mereka menjadi bagian dari penghuni syurga. Dengan jalan ini pula aku mampu memberikan banyak penjelasan ketika orang tuaku memaksakan sesuatu. Sungguh…..di jalan ini pula aku banyak belajar menjadi seorang yang tangguh, tsabat serta sabar menghadapi berbagai karakter yang secara nalar aku sudah tak bisa menghadapinya.

Inilah jalanku………….

Dan tak kan kubiarkan siapapun mengecoh langkahku dari jalan ini.

sumber : http://ukimedia.wordpress.com/2008/05/09/inilah-jalanku/

FIS Aljazair: Sebuah Pembelajaran Untuk Partai Islam di Dunia


Usianya pendek. Namun, akan dikenang sebagai sebuah gerakan Islam yang bisa diterima oleh rakyat. Karena, ia konsisten untuk menjadi partai Islam. Perkembangan dan sejarahnya dimatikan oleh penguasa.

Pada dekade akhir 80-an dan awal 90-an, hampir semua penggerak dakwah Islam mengenali FIS. FIS atau Front Islamic du Salut atau dalam bahasa Indonesia Front Keselamatan Islam adalah sebuah partai politik di Aljazair berideologi Islam.

Sampai tahun 1988, di Ajazair hanya ada satu partai politik yaitu FLN. Namun ketika meletus penentangan terhadap pemerintah dan FLN, presiden Aljazair ketika itu, Chadli Bendjedid (sekaligus merangkap sebagai sekjen FLN), terpaksa mengizinkan pendirian berbagai parpol baru.

Satu tahun kemudian, berdirilah FIS. FIS didirikan di atas kesadaran masyarakat Aljazair yang beragama Islam. Bertahun-tahun masyarakat Muslim Aljazair kecewa terhadap pemerintahnya yang sekuler, karena negaranya tidak mengalami kemajuan. Juga selain itu, pemerintah Aljazair tidak mengakomodasi kepentingan umat Islam.

Benjedid sendiri memerintah sejak tahun 1978, meneruskan kepemimpinan Boumedienne yang jahil (sekuler). Boumedienne sendiri berkuasa karena menggulingkan presiden Bella pada tahun 1962. Otomatis, sejak tahun 1988 itu, bermunculanlah parpol-parpol di Aljazair. Namun, kemudian hanya FIS yang menyeruak ke permukaan dan meraih simpati masyarakat. Apa pasal? Ini karena sejak awal FIS konsisten berjuang dengan program-program dan asas Islam.

Masyarakat Aljazair yang sudah lama hidup dalam belenggu dan suasana sekuler, tidak disangka-sangka lebih memilih FIS. Walaupun rakyat mayoritas beragama Islam, namun kehidupan dan cara-cara masyarakat Aljazair hampir tidak beda dengan masyarakat Prancis atau Eropa, hingga kecenderungan mereka terhadap FIS pun mengherankan banyak pihak. Sekalipun, soal urusan hidup hedonis, tapi untuk urusan pemerintahan, tampaknya rakyat Aljazair lebih percaya pada konsep Islam.

FIS pun meresponnya dengan baik, yaitu dengan tidak tertarik akan ide “berpura-pura” menjadi sekuler, seperti menjadi partai terbuka atau nasionalis untuk menarik simpati masyarakat. Mereka tetap konsisten dengan nilai dan prinsip Islam, baik di dalam partai ataupun skap keluar (eksternal) terhadap partai atau golongan serta pemerintah.

Pada pemilu 1991, artinya hanya dua tahun sejak berdirinya FIS, partai ini meraih 54% suara dan mendapat 188 kursi di parlemen atau menguasai 81% kursi. Suatu pencapaian yang fantastis! Pada pemilu putaran kedua, FIS dinyatakan menang telak.

Hasilnya pada pemilu putaran pertama 20 Juni 1991, FIS memenangkan 54% suara dan mendapat 188 (81%) kursi di parlemen. Umat Islam Aljazair menyambut gembira Kemenangan FIS ini disambut gembira oleh rakyat Aljazair.

Namun tidak dengan Benjedid. Presiden yang kemudian mengundurkan diri ini setelah kekalahan partainya segera berkonsolidasi dengan pihak-pihak yang tak ingin Islam tampil dan FIS berkuasa. Maka Benjedid pun menggalang kekuatan militer. Militer, dengan kekuasaannya dan semena-mena, membubarkan parlemen Aljazair serta membatalkan hasil pemilu.

Mohammed Boudiaf, mewakili militer, segera mendirikan Dewan Tinggi Negara, dan kemudian bertindak sebagai pemerintahan interim. Ia, entah dengan dasar apa, mengumumkan bahwa Aljazair berada dalam keadaan darurat.

Boudiaf menjadi penguasa baru di Aljazair. Ia merekayasa semua cara untuk memberangus FIS dan menyatakannya sebagai partai politik terlarang. Ribuan anggota dan pendukung FIS ditangkap dan dijebloskan ke penjara, dan tak jarang dibunuh. Pemimpin FIS Abassi Madani dan Ali Belhadj dipenjarakan. Boudiaf sendiri tewas di tangan Letnan Mohammed Bumaaraf yang berusia 26 tahun. Sejarah terulang, Aljazair tidak pernah lepas dari pemberontakan dan pembunuhan. Ini berbeda jika saja FIS memerintah, karena walaupun mengusung ideologi Islam, FIS tak sekalipun merugikan kepentingan golongan lain.

Kini Aljazair diperintah oleh Abdul Aziz Boetuflika yang juga sekular. FIS sudah tidak tahu lagi kemana di negara ini. Namun pelajaran besar dari FIS adalah jangan pernah menanggalkan identitas sebagai partai Islam walaupun di tengah masyarakat yang sekuler.

Karena, bagaimanapun jahiliyahnya umat Islam di sebuah negara, jauh di lubuk hatinya mereka menginginkan sebuah partai Islam yang benar-benar Islam. Bukan partai Islam 'gadungan' dan dipimpin para pecundang politik, yang bertindak-tanduk hampir tidak ada bedanya dengan partai sekuler, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan dan berkomplot dengan penguasa sekuler.

Meskipun, akhirnya FIS dibubarkan oleh penguasa militer Aljazair, tapi itu jauh lebih terhormat daripada mengekor kepada kekuasaan sekuler.(sa/berbagaisumber)

~Dari mata turun ke hati~

Dari Mata Turun ke Hati : Awal peristiwa - Dari pandangan mata - Laksana setitik bara api - Saat mata mengembara - Bak jilatan api perlahan pasti - Menerkam semua pemandangan - Merasuk pikiran terbayang-bayang - Hasrat hati mewujudkan impian - Bermain-main mereguk kesenangan - Berbuah gelimang dosa penyesalan.

Aturan Memandang dalam Al Quran dan hadis

Allah swt. dalam Al Quran telah mewanti-wanti, “Katakanlah bagi mukmin (laki-laki) hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka. Demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat.” “Katakanlah kepada mukmin perempuan, hendaklah menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka…” (Q.S. An-Nur 24: 30-31).

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata itu bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa berzina dan zinanya adalah sentuhan. Hati bisa berzina dengan keinginan dan angan-angan. Baik kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (H.R. Bukhari, Muslim, An-Nasai, dan Abu Dawud). “Wahai Ali, janganlah engkau susuli pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang kedua bukan lagi menjadi bagianmu (dosa atasmu)” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud).

Perintah menjaga pandangan ditujukan pada para wanita. Sebuah hadis menerangkan, “…Ya Rasulullah, bukankah ia buta (Ibnu Ummi Maktum) sehingga tidak mungkin dapat melihat kami? Maka sabda Rasulullah saw. “Bukankah kamu berdua (Ummu Salamah r.a. dan Maimunah bintiaAl-Harits) melihatnya?” (H.R. Abu Daud). “Sesungguhnya memandang (wanita) adalah salah satu panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barangsiapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita karena takut pada-Ku, maka Allah mewariskan kelezatan iman di dalam hatinya.” (H.R. Thabrani).

Memanage Pandangan

Q.S. An-Nuur ayat 30 dan 31, memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menjaga pandangan atau menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya agar tidak terjerumus pada perbuatan haram.

Menahan pandangan atas hal-hal yang diharamkan Allah swt., disebutkan paling awal, karena menahan pandangan mata merupakan dasar untuk menjaga kemaluan dan cerminan hati yang beriman. Apabila mengumbar pandangan, otomatis mengumbar syahwat hati dan tidak beriman. Segala pandangan yang tidak sengaja dan tiba-tiba, bisa meninggalkan pengaruh dalam hati, sikapi dengan mengalihkan arah pandangan, terlarang mengulangi atau melanjutkan menatap pandangan yang tidak sengaja tadi. Pandangan yang tidak sengaja merupakan bagian dari sekadar ketidaksengajaan, sedangkan pandangan selanjutnya adalah haram dan hukumnya berdosa.

Apabila pandangan itu ditahan sejak awal, maka cara menuntaskannya menjadi lebih mudah. Senantiasa berupaya preventif (mencegah) dan antisipatif (siap siaga) tidak menyengaja mencari-cari dan mencuri-curi kesempatan menatap dalam-dalam, menatap penuh birahi. Pandangan pertama ibarat panah beracun, terlebih-lebih pandangan selanjutnya mengandung racun mematikan. Sedetik Anda lengah maka panah racun iblis akan tertancap dalam hati, memusnahkan benteng iman menjerumuskan pada perzinahan mata, dan zina seluruh pancaindera, baik diwujudkan dengan berhubungan intim ataupun tidak.

Bagi yang telah menikah, maka bila memandang tidak sengaja lawan jenis hendaklah mengendalikan ketertarikan biologisnya dengan menyadari apa yang ada pada diri wanita (pria) lain dengan istri (suami)-nya sama saja, maka selamatlah dorongan birahi yang tidak pada tempatnya.

Menjadi orang yang bermuamalah dengan Allah swt. rido meninggalkan pandangan yang disukai syahwatnya, hatinya kian menjadi tenang. ”Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal darah itu adalah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim).



Pandangan yang Dikecualikan

Syariat membolehkan kaum mukminin untuk memandang lawan jenisnya apabila terdapat keperluan-keperluan tertentu yang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan memandangnya, yaitu: memandang saat meminang (aurat tetap terjaga), proses pemeriksaan perkara di pengadilan, dokter yang dapat dipercaya dibolehkan melihat anggota badan wanita yang bukan muhrim pada bagian yang perlu dilihat sebatas usaha pengobatan bila tidak terdapat dokter wanita, dan saat khitan.

Manfaat Menahan Pandangan

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, manfaat menahan pandangan di antaranya membersihkan hati dari derita penyesalan dosa, mendatangkan cahaya, keceriaan, kegembiraan, kesenangan hati, kenikmatan hidup, mendatangkan kekuatan firasat yang benar (berasal dari zhahir mengikuti sunnah, batinnya merasakan pengawasan Allah swt., menahan mata dari hal-hal yang diharamkan, menahan diri dari syahwat).

Membuka pintu dan memudahkan jalan ilmu, mendatangkan kekuatan, keteguhan, kekuatan hati, membebaskan hati dari tawanan syahwat yang memabukkan, melenakan dan melalaikan, menutup pintu neraka jahanam, cemerlang akalnya tidak hidup gegabah selalu memikirkan akibat di kemudian hari. Sadarlah kita, “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al Hajj 22: 46). Wallahu A’lam.

Berdoalah....


1. Do'a adalah otaknya (sumsum / inti nya) ibadah. (HR. Tirmidzi)

2. Do'a adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi. (HR. Abu Ya'la)

3. Akan muncul dalam umat ini suatu kaum yang melampaui batas kewajaran dalam berthaharah dan berdoa. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Penjelasan:
Yakni berdoa atau mohon kepada Allah untuk hal-hal yang tidak mungkin dikabulkan karena berlebih-lebihan atau untuk sesuatu yang tidak halal (haram).

4. Do'a seorang muslim untuk kawannya yang tidak hadir dikabulkan Allah. (HR. Ahmad)

5. Jangan mendo'akan keburukan (mengutuk) dirimu atau anak-anakmu atau pelayan-pelayanmu (karyawan-karyawanmu) atau harta-bendamu, (karena khawatir) saat itu cocok dikabulkan segala permohonan dan terkabul pula do'amu. (Ibnu Khuzaimah)

6. Rasulullah Saw ditanya, "Pada waktu apa do'a (manusia) lebih didengar (oleh Allah)?" Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Pada tengah malam dan pada akhir tiap shalat fardhu (sebelum salam)." (Mashabih Assunnah)

7. Do'a yang diucapkan antara azan dan iqomat tidak ditolak (oleh Allah). (HR. Ahmad)

8. Bermohonlah kepada Robbmu di saat kamu senang (bahagia). Sesungguhnya Allah berfirman (hadits Qudsi): "Barangsiapa berdo'a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do'anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya." (Ar-Rabii')

9. Ada tiga orang yang tidak ditolak do'a mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka; (2) Seorang penguasa yang adil; (3) Dan do'a orang yang dizalimi (teraniaya). Do'a mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, "Demi keperkasaanKu, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera." (HR. Tirmidzi)

10. Barangsiapa tidak (pernah) berdo'a kepada Allah maka Allah murka kepadanya. (HR. Ahmad)

11. Apabila kamu berdo'a janganlah berkata, "Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki." Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati sebab Allah berbuat segala apa yang dikehendakiNya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah 'Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do'amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do'a orang yang hatinya lalai dan lengah. (HR. Ahmad)

13. Apabila tersisa sepertiga dari malam hari Allah 'Azza wajalla turun ke langit bumi dan berfirman : "Adakah orang yang berdo'a kepadaKu akan Kukabulkan? Adakah orang yang beristighfar kepada-Ku akan Kuampuni dosa- dosanya? Adakah orang yang mohon rezeki kepada-Ku akan Kuberinya rezeki? Adakah orang yang mohon dibebaskan dari kesulitan yang dialaminya akan Kuatasi kesulitan-kesulitannya?" Yang demikian (berlaku) sampai tiba waktu fajar (subuh). (HR. Ahmad)

14. Tidak ada yang lebih utama (mulia) di sisi Allah daripada do'a. (HR. Ahmad)

15. Tiga macam do'a dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

16. Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hambaNya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa. (HR. Al Hakim)

17. Tiada seorang berdo'a kepada Allah dengan suatu do'a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa. (HR. Ath-Thabrani)

18. Barangsiapa mendo'akan keburukan terhadap orang yang menzaliminya maka dia telah memperoleh kemenangan. (HR. Tirmidzi dan Asysyihaab)

19. Ambillah kesempatan berdo'a ketika hati sedang lemah-lembut karena itu adalah rahmat. (HR.Ad-Dailami)

20. Ali Ra berkata, "Rasulullah Saw lewat ketika aku sedang mengucapkan do'a : "Ya Allah, rahmatilah aku". Lalu beliau menepuk pundakku seraya berkata, "Berdoalah juga untuk umum (kaum muslimin) dan jangan khusus untuk pribadi. Sesungguhnya perbedaan antara doa untuk umum dan khusus adalah seperti bedanya langit dan bumi." (HR. Ad-Dailami)

21. Berlindunglah kepada Allah dari kesengsaraan (akibat) bencana dan dari kesengsaraan hidup yang bersinambungan (silih berganti dan terus-menerus) dan suratan takdir yang buruk dan dari cemoohan lawan-lawan. (HR. Muslim)

22. Tidak ada manfaatnya bersikap siaga dan berhati-hati menghadapi takdir, akan tetapi do'a bermanfaat bagi apa yang diturunkan dan bagi apa yang tidak diturunkan. Oleh karena itu hendaklah kamu berdoa, wahai hamba-hamba Allah. (HR. Ath-Thabrani)

23. Barangsiapa ingin agar do'anya terkabul dan kesulitan-kesulitannya teratasi hendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan. (HR. Ahmad)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press

~Indahnya menjemput kematian~


Ada satu kepastian diantara ketidakpastian dalam kehidupan manusia. Dimana secara sadar atau tidak, manusia sesungguhnya menuju kepadanya. Tidak perduli apakah ia siap atau tidak, tua atau muda, cepat atau lambat. Bagi sebagian manusia, ia hanyalah proses alamiah dalam sebuah kehidupan. Menjadi akhir peristirahatan dari segala kegalauan. Bagi sebagian lain ia adalah awal dari sebuah kehidupan. Itulah kematian.

Ibarat sebuah sungai, muaranya merupakan merupakan pintu gerbang samudra. Begitu pula dengan kematian, ia adalah muara bagi pintu gerbang samudra kehidupan yang luas dan kekal. Tiada hal yang membuat Basuki (30) curiga bahwa pada awal November 2002 di Jalan Gatot Subroto, Jakarta lalu merupakan hari terakhirnya merasakan kehidupan setelah sedan yang ditumpanginya ditabrak Panther. Begitu pula dengan seorang jama'ah haji yang pada saat itu bersama penulis sedang menempuh perjalan menuju Madinah. Iapun tidak menyangka bahwa itulah perjalanannya yang terakhir setelah menyelesaikan prosesi haji dan sholat dzuhur hari itu.

Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir kehidupannya. Dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah kemungkinan besar ia akan menghadapi kematiannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani kehidupan berarti kita sedang berjalan menuju kematian kita.

Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.' (QS. Jum'ah:8).

Orang-orang yang berfikir secara kerdil dan menjatuhkan diri kepada keduniawian akan berlari dengan segala kemampuan yang ada dari kematian. Kematian merupakan momok yang menakutkan yang akan mengambil segala yang telah diusahakan selama hidupnya. Padahal jauh berabad-abad dahulu Rasulullahpun telah mengingakan akan kematian dalam sebuah sabdanya :

Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian). (HR. Tirmidzi)

Sementara manusia-manusia yang cerdas menjadikan kehidupannya bukan hanya sebagai sarana menghadapi dan mempersiapkan kematian namun menjemput kematian melalui seni kematian. Paradigma seni kematian memang masih aneh dalam fikiran masyarakat saat ini. Kematian hanyalah kematian. Bagaimana mungkin sesuatu yang nafsu membenci bertemu dengannya menjadi sesuatu yang jiwa bergairah berjumpa dengannya ? Inilah salah satu ajaran Islam yang agung, mengatur dari hal-hal kecil kehidupan sampai kenegaraan, dari awal memulai kehidupan sampai bagaimana menjemput kematian dalam koridor-Nya.

Bagi orang-orang cerdas ini, kematian adalah panglima nasihat dan guru kehidupan. Sedikit saja ia lengah dari memikirkan kematian maka ia telah kehilangan guru terbaik dalam hidupnya. Inilah yang membuat seorang Sayyid Qutb berkata di tiang gantungan Rezim Pemerintah Gamal Abdun Naser berkata, ''Hiduplah Anda dalam keadaan mulia, atau matilah dalam keadaan mati syahid''.

Seni kematian yang paling indah juga dicontohkan para sahabat dalam membela risalah Islam dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Cukuplah kematian itu sebagai penasehat. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (HR. Ibnu Majah)

Sekarang adakah dalam hati kita kematian itu sebagai penasihat terbaik kita dan memulai menata hati, jiwa dan raga untuk menjemput kematian dengan seni kematian yang begitu indah dalam Islam. Semoga, selagi masih ada waktu.

Wallohu a'alam.

-----------------------
Sumber: Menjemput Kematian oleh Abu Saifulhaq Asaduddin - Alhikmah

~Cinta yang buta VS Cinta yang melihat~


Rasa cinta di dalam hati kadang kala membuat kita lupa akan segala hal yang ada dikenyataan kita, kadang pula kita memaknai cinta sebagai hal yang lumrah dan wajar bagi kita. Tetapi pada hakikatnya cinta adalah rahmat dari Allah SWT. dan merupakan salah satu nikmat-Nya yang paling besar bagi diri kita sebagai seorang hamba Allah SWT. oleh karena itu jagalah cinta, jangan sekali-kali engkau nodai cinta yang suci ini wahai Bani Adam. Dan jagalah ia jangan sampai hilang di telan oleh lumpur hidup yang siap menelan kapan saja.

Rasa cinta ada pada hati setiap manusia, hewan, bahkan tumbuhan sekali pun. Seandainya makhluk Allah SWT. selain Bani Adam bisa berbicara mungkin ia akan berkata "Aku mencintaimu", kata cinta ini sungguh sangat fenomenal dan luar biasa efeknya. Dengan kata cinta orang bisa menangis, dengan kata cinta orang bisa bahagia, bahkan karena cinta nyawa pun hilang.

Ketika rasa cinta meresap ke dalam hati yang masuk melalui pori-pori tubuh sehingga buluk kuduk pun berdiri tegak, dikarenakan hebatnya perkataan cinta maka kita pun akan terperana dengan kehebatan kata cinta itu. Itulah fenomena yang terjadi ketike seoarang jatuh cinta.

Orang yang sedang bercinta akan merasakan indahnya dunia ini, sehingga ada jargon "dunia hanya milik berdua", kata-kata ini mungkin bisa dikatakan lucu bagi sebagian orang, karena kata ini mustahil terjadi, tetapi bagi orang yang sedang jatuh cinta maka semuanya bisa terjadi walaupun pada hakikatnya tidak akan terjadi. Hal ini berkaitan langsung dengan jargon "cinta itu buta" kata ini di satu sisi mendukung adanya kata "dunia hanya milik berdua" tapi di sisi yang lain perkataan "cinta itu buta" sebuah ungkapan yang mengarah negatif, artinya kenapa dia mengatakan dunia milik kita berdua? karena dia buta, tetapi buta di sini dalam tanda kutip yaitu buta karena cinta yang semu.

Lalu cinta apakah yang dapat melihat tetapi dunia milik kita bersama? Jawabannya mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Inilah konsep cinta yang sesungguhnya, inilah konsep cinta yang kekal, inilah konsep cinta yang abadi, dan inilah konsep yang akan menolong kita dari kengerian hari kiamat. Karena mahabbah fillah adalah salah satu tanda orang yang mendapatkan naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah.

Oleh karena itu, kita mencintai sesuatu apapun baik kekasih, guru, sahabat, teman, orang tua, hewan peliharaan dan lain sebagainya hendaknya dikarenakan Allah SWT, agar cinta kita itu di nilai ibadah. Bukan kah niat itu sangat berpengaruh dalam perbuatan kita apalagi kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah SWT. untuk beribadah oleh karena itu agar semuanya ibadah diniatkan kerena Allah SWT. inilah yang di sebut dengan mahabbah fillah (cinta karena Allah)

Jikalau cinta sudah di rasuki oleh kata "karena Allah" maka sungguh nikmat dan begitu syahdunya. Apalagi cinta ini dimaksudkan mencintai makhluk Allah SWT. yang sudah barang tentu fana yang tidak kekal, maka kita pun akan berpisah dengan sesuatu yang kita cintai itu karena ada sebuah perkataan "ada pertemuan dan pasti ada perpisahan", tetapi bagi orang yang sudah di rasuki oleh kata "karena Allah" maka ia tidak akan kecewa dan tidak akan menyesal yang berlarut. Cinta yang dikarenakan Allah SWT. akan memegang prinsip "cintailah kekasihmu jangan berlebihan" karena cinta yang hakiki dan yang sebenarnya adalah cinta kepada penciptanya.

Apalagi di tambah dengan kata-kata "dunia milik bersama" , sungguh indahnya muslim, kita di perintahkan untuk saling menasihati dan saling mengingatkan, karena dunia ini milik kita bersama yang menjadi sarana mengumpulkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang jauh, lebih jauh lagi dari pada perjalanan mengelilingi jagat ini dengan kecepatan cahaya. Bersyukurlah wahai Muslim dan Muslimah.

Marilah untuk merubah konsepsi kita dari cinta buta yang milik berdua kepada cinta yang melihat yang milik bersama, karena alangkah indahnya saat hati ini melihat dan mengajak bersama-sama untuk menuju surga-Nya Allah SWT. yang kekal dan Abadi.

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Yang Engkau Cintai


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum�."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya��Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.