Hazna Alifah: >>>Jangan Menyerah<<< Makna lagu ini bagiku...


Lirik lagu yang menginspirasi.
Luar biasa.
Kali pertama saya mendengar lagu ini, saya sudah ‘jatuh hati’ untuk memiliki mp3-nya.
Setiap kata yang tertulis menjadi rangkaian bait-bait lirik lagu, amat bermakna. Saya fikir, tumben ada kelompok band Indonesia yang bisa membuat lirik lagu yang luar biasa. Lirik lagu ini jauh dari aroma percintaan remaja, dinamika cinta kehidupan remaja bobrok di era kapitalisme, sungguh amat jauh. Lagu ini memang BEDA.


Jangan Menyerah-D’Masiv

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Reff 1:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Back to: Reff 1

Reff 2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Bridge:
Jangan menyerah (6x)

Back to: Reff 1 & Reff 2

Coda:
Dan tak kenal putus asa (2x)

Ketika mendengarkan lagu ini diputarkan, inilah yang terbayang dalam benak saya.

Di bait yang pertama, baris pertama dan kedua, “Tak ada manusia,
Yang terlahir sempurna”

Memang benar, manusia bukanlah makhluk yang sempurna, ia senantiasa membuat suatu kesalahan ataupun kecerobohan. Karna memang Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 216 yang artinya:” …Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui ,sedang kamu tidak mengetahui.”

Itulah manusia, kadang ia menganggap yang baik itu buruk dan yang buruk itu baik. Mengingat sifat manusia yang memang seperti itu. Maka sungguh manusia membutuhkan tuntunan dalam hidupnya, bukan dari sesama manusia yang memiliki kekurangan yang sama melainkan dari Dzat Yang Maha Tau akan kekurangan kelebihan mereka. Ialah Allah SWT, Sang Pemilik Alam Raya termasuk manusia. Allah SWT menuangkan peraturannya dalam Al-Qur’an. Selanjutnya bisa kita lihat pula dari Sunnah Rasulullah SAW., baik perkataan, perbuatan, maupun diamnya Rasulullah SAW. Juga dari Ijma Sahabat dan Qiyas.

Manusia memang bukanlah makhluk yang sempurna, tapi apa salahnya kita mencoba, walau harus tertatih-tatih menuju sebuah kesempurnaan. Menjadi seorang hamba Allah yang senantiasa menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sulit? Memang, tapi yakinlah, Allah tidak akan membebankan suatu hukum kepada hambaNya melainkan hambaNya pasti mampu untuk melaksanakannya.

Firman Allah:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):" Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”(TQS. al-Baqarah (2) : 286)

Masih di bait yang pertama, baris ketiga dan keempat, “Jangan kau sesali,
Segala yang telah terjadi”

Untuk apa kita menyesali yang telah terjadi? InsyaAllah smua itu adalah rencana indah yang sudah Allah SWT persiapkan untuk kita. Ketika kita bersabar menghadapi cobaan yang diberikan, maka surga Allah menanti kita.

Allah SWT., berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (TQS. Az-Zumar:10)

Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW., bersabda:
Allah berfirman,”Seorang hamba yang Aku ambil kekasihnya dari penghuni dunia kemudian ia bersabar, maka tidak ada balasan apapun baginya kecuali surga.” (HR. al-Bukhari)

Dari Anas ra., ia berkata; aku mendengar rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah berfirman,”Apabila aku menguji hamba-Ku dengan dua mata yang buta, kemudian ia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua (mata)nya tersebut dengan surga baginya.”(HR. al-Bukhari)

Tidak ada satupun masalah yang tidak ada pemecahannya. Dan tidak ada satupun kejadian yang tidak ada hikmah di dalamnya. Yakinlah itu sahabatku…

Ambillah hikmah, walau sepahit apapun dari kejadian yang pernah menimpa kita di masa lalu untuk dijadikan bekal di masa depan. Setelah kita ambil hikmahnya, jangan sampai kita menoleh lagi ke belakang, truslah berjalan menatap masa depanmu… jangan sampai kita menjadi orang yang merugi dengan slalu meratapi masa lalu. Tapi cobalah untuk kembali merangkai mimpi dan cita-cita besarmu.

Dan jangan lupa sobat, sampaikan dan sebarluaskanlah mimpimu kepada orang-orang terdekatmu. Agar mereka dapat mendukungmu dan tentu bukan hanya sekedar untuk mendukung, tapi juga mungkin suatu waktu mereka dibutuhkan untuk me’nampar’mu ketika kamu lalai dari mewujudkan mimpi besarmu. @_@

Di bait kedua, baris kesatu sampai ke empat,
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi

Kadang itulah terjadi. Ketika datang cobaan beruntun ke dalam hidup kita. Lantas kita merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya, maka sungguh, seakan-akan hidup kita sudah tak ada artinya lagi. Oh jangan sahabat, jangan pernah kau katakan itu….!!!!! Hidup, pasti berarti, Allah tidak akan menciptakan sesuatu, baik itu benda mati maupun benda hidup yang tanpa arti. Skali lagi, PASTI SEMUA ITU MEMILIKI ARTI.

Dalam menghadapi cobaan, seberat apapun itu, maka sikap sabar, tawakal dan ikhlaslah yang dibutuhkan. Smua itu harus terus kita pupuk dan pelihara.
Cobaan, adalah wujud dari cinta Allah kepada kita sebagai hamba-Nya.

Firman Allah:
”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (TQS. al-Baqoroh:214)

Firman Allah:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan:" Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiuun "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(TQS. al-Baqarah (2) :155-157)

Firman Allah:
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”(TQS. At-Thalaq:3)

Rasulullah saw., bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wajalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barangsiapa marah, maka diapun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya.”(Telah dikeluarkan oleh Ahmad melalui jalur Mahmud bin Labid)

Hadis dari Abu Umamah al-Bahili riwayat an-Nasa’i dan Abu Dawud, Rasulullah saw., bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata.”(al-Mundziri berkata, “Isnadnya Shahih”)

Kemudian di Reff 1,
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Ya, sabar dan senantiasa bersyukur. Karna hidup ini adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Bersyukurlah, karena:

Firman Allah:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (TQS an-Nahl [16]: 18).

Allah berfirman, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).'' (QS Aldhuha [93]: 11).

Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.

Bersyukur merupakan salah satu ibadah mulia kepada Allah yang mudah dilaksanakan, tidak banyak memerlukan tenaga dan pikiran. Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya. Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.

Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illallah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdulillah, maka baginya 30 kebaikan.''

Dan kemudian, berikanlah sesuatu yang terbaik untuk Dzat Yang Maha Baik.

Di reff 2,
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Betul Sobat. Kita memang tidak boleh berputus asa. Karna sesungguhnya, orang yang berputus asa dari Rahmat Allah adalah orang-orang yang sesat, sebagaimana Allah SWT., berfirman:
“Mereka menjawab:" Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa ". Ibrahim berkata:" Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat ".
(TQS. al-Hijr (15) : 55-56)

“Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir".(TQS. Yusuf (12) : 87)

Inilah yang terbayang dan terfikirkan dalam benak saya ketika mendengarkan lagu ini.
Mungkin sama, mungkin juga sedikit berbeda dengan sobat semua dalam pemaknaannya.
Namun, saya berharap, setidaknya ini bisa memberikan energi yang positif bagi diri kita masing-masing.
Terutama untuk perjuangan ini.

Perjuangan untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari penjajahan kaum kafir dengan mengembalikan Kemuliaan kaum muslimin, yaitu dengan kembali Ditegakkannya Khilafah Islamiyah ala Minhajin Nubuwwah…

Jangan Menyerah….!!!

Kita sudah memulai perjuangan ini, maka kita pula yang harus menyelesaikannya.

Wallahu‘ alam

Salam Perjuangan….!!!

>>>hazna alifah<<<

Muhasabah cintaku kepadaMu -_-



Muhasabah Cinta
Album :
Munsyid : EdCoustic
http://liriknasyid.com


Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

============================================

Jujur, ini nasyid yang paling aku suka.
gak tahu kenapa, cuma jika mendengarnya terasa nyaman dan damai
mengingatkan akan arti cinta yang sesungguhnya
mengingatkan akan cinta yang diajarkan oleh Dia
bukan cinta yang semu
bukan cinta yang hanya karena nafsu
bukan cinta yang hanya melihat fisik dan materi
namun cinta yang bermuara dari Dia

Sudah kah kita benar-benar mencintainya...
sudah kah kita menjalankan apa yang Dia perintahkan...
tidakkah Dia maha tahu apa yang kita kerjakan..
tidakkah kita sadar bahwa ketika Allah cinta dengan hambaNya maka begitu Allah akan selalu menolong hambaNya tersebut.

sebuah hadist qudsi "
“....Kecintaan terhadap sesuatu bersama dengan hamba-Ku yang datang mendekatkan diri kepada-Ku adalah (karena perbuatannya) yang telah Aku wajibkan atasnya untuk dilakukan. Hambaku menjaga kedekatannya dengan-Ku dengan amalan-amalan Nawafil (amalan-amalan sunnah) hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia bergerak dengannya dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika dia meminta sesuatu dariKu, Aku akan mengabulkannya. Jika dia meminta perlindungan maka Aku akan melindunginya. Aku tidak akan pernah berhenti melakukan sesuatu yang ingin Aku lakukan..... Mukmin membenci kematian dan Aku membencinya melakukan dosa.”


"jika kuharus mati, pertemukan aku denganmu"

Hambamu,



Adi Victoria

Ramadhan hari ke dua ku ^_^

alhamdulillah hari ini masuk ke 2 ramadhan yang artinya hari ke dua puasa .

sedih , sejak hari pertama sahur hingga berbuka tidak dengan orang-orang yang kusayangi. ibu dan bapak masih di tempat kerja mereka, bukan di kantor tapi di hutan , maklum aku dari keluarga petani, jadi sejak kecil sudah terbiasa dengan "alam" tapi, alhamdulillah sudah tidak menyentuh "alam" itu lagi, namun kedua orang tuaku masih, jika ditanya kenapa gak berhenti saja pak? pasti di jawab "bapak sakit kalo gak kerja Di" maksudnya "kerja" adalah bergerak atau beraktivitas seperti ini, yakni berladang, subhanallah, betapa tegar dan kuat bapak .

takkan ku lupakan saat masa-masa kecilku, yang mungkin sangat jarang dialamai oleh mereka yang, (mohon maaf) mampu dari segi keuangan, karena memang masa kecilku penuh dengan perjuangan


Ya Allah, semoga Engkau selalu menjaga orang-orang yang sangat ku sayangi, mereka yang telah mendidik ku hinga seperti ini, mereka yang selalu menguatkan ku di saat ku lemah. amin.

anakmu,


Adi Victoria

Memang malang nian nasib para ikhwan -_-, lho kenapa ??? ^_^

bismillah…^_^

entah kenapa kok ada ide mau nulis ni note tentang ini, mungkin karena banyaknya komment ketika saya menulis status di FB kemarin 26 Juli 2009 sehabis pulang dari Mall

“-_-emang benar kata teman ana, malang nian nasib para ikhwan -_-”

heu heu aya aya wae kata sundanise…

yah, mungkin kita pernah dengar kata pak ust tentang hilangnya hafalan Imam syafe’i ketika melihat betis seorang wanita, yang mana betis merupakan salah satu aurat yang ada pada wanita.

kata Pak Ustadz.“Yang derajat ruhiahnya sangat tinggi jika dibandingkan dengan kita, pernah mengalami kejadian yang merugikan, gara-gara melihat aurat perempuan. Pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain yang menutupi aurat. Nah, suatu saat, Imam Syafi’i melihat seorang perempuan yang lewat di depan belaiau, dan … tersingkap kainnya sehingga betisnya tertangkap oleh penglihatan beliau. Seketika itu pula, 40 (empat puluh) hafalan hadist beliau hilang.”

yang perlu menjadi catatan adalah dulu pada masa itu hampir semua perempuan di sana, selalu mengenakan pakain yang menutupi aurat, nah sekarang ini ??? :-( ampe ada yang nyuruh pake kacamata kuda saja biar aman -_- fyuhhh Hidup dibawah aturan manusia ya begini nasib para ikhwan khususnya… lha, kenapa hanya para ikhwan saja bukan akhwat yang juga dikasihani?? :-D ya karena memang fakta di kehidupan masyarakat lebih banyak aurat wanita yang terlihat dengan jelas ketimbang para pria ^_^ ya kalo di hitung masih bisa dihitung dengan jari kita berapa benyak pria yang ada di kehidupan umum yang auratnya terlihat, sebagaiman kita mafhum bahwa aurat laki2 adalah dibawah pusar dan diatas lutut. tapi dikalangan ulama shalaf memang terjadi iktilaf tentang aurat laki-laki. silahkan lihat buku ust Syamsudin Ramadhani al-Nawiy “hukum Islam seputar busana & penampilan wanita”

namun hal ini tentu saja tidak membuat para ikhwan khususnya menjadi diam (red : pasrah) tentu saja kita harus pinter-pinter menjaga pandangan. istilah ‘anak taklim” itu ghadul bashar atau menjaga pandangan.

hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali ra. Ia menuturkan bahwa Rasulullah saw telah bersabda kepadanya : “Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukan untukmu.

” Firman Allah dalam surat An-Nur : 30 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya”

MALIKI


Tidak diperbolehkan bagi laki-laki melihat aurat wanita yang bukan mahromnya walaupun tidak dengan syahwat ataupun tidak untuk tujuan kesenangan (ladzzah). Adapun melihat bagian yang tidak termasuk aurat wanita menurut jumhur ulama, yaitu wajah dan telapak tangan, diperbolehkan dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan fitnah dan bukan untuk memuaskan kesenangan (ladzdzah) Bila hal tersebut menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat, maka melihatnya haram.

SYAFI’I


Haram melihat wanita yang bukan mahromnya begitu pula haram melihat wajah dan telapak tangan dengan alasan takut akan menjadi fitnah karena kedua bagian tersebut merupakan bagian yang bisa menimbulkan fitnah dan syahwat. Berdasarkan alasan ini Syafi’i mengharamkan melihat wanita baik yang termasuk aurat maupun yang tidak, dan bukan disebabkan keduanya (wajah dan telapak tangan) itu adalah aurat. Pengharaman ini bisa gugur dengan adanya alasan syar’i, misalnya pengobatan dan lain sebagainya, maka melihat wajah, telapak tangan dan bahkan seluruh tubuhnya boleh.

HANAFI


Seperti halnya Maliki, Hanafi juga mengharamkan laki-laki melihat wanita yang bukan mahromnya, kecuali yang biasa nampak pada mereka dan tidak dengan syahwat. Bila melihatnya dengan syahwat maka haram hukumnya. Adapun perhiasan yang biasa nampak pada wanita dalam surat An-Nur : 31, menurut Hanafi adalah wajah, telapak tangan dan telapak kaki.

HANBALI


Pada asalnya, mereka mengharamkan seorang laki-laki melihat wanita yang bukan mahrom, kecuali dalam keadaan darurat. Tetapi sebagian dari mereka memakruhkan laki-laki melihat wajah dan telapak tangan wanita walaupun tidak dengan syahwat.

so buat para ikhwan… termasuk saya berarti ya ^_^ mari kita pinter-pinter jaga mata, jaga hati, jaga telinga juga heu heu heu buat para akhwat, sebenarnya juga sama…

Firman Allah dalam surat An-Nur : 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman Hendaklah mereka menahan pandangannya”

Sebagaimana laki-laki, wanita pun harus menahan pandangannya terhadap lawan jenis yang bukan mahrom. Dan batasan minimum pandangannya adalah antara pusar dan lutut laki-laki, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak dengan syahwat. Bila sudah melibatkan syahwat maka hukumnya menjadi haram. Ini adalah pendapat rojih para ulama.

Dalilnya:

1. Hadits Nabi yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud menerangkan bahwa Nabi menyuruh Ummu Salamah dan Maimunah memakai hijab ketika anak Ummu Maktum yang buta lewat di hadapan mereka sedang mereka melihatnya.

2. Riwayat dalam Shahih Bukhari, dari Aisyah ra, bahwasannya Nabi menutupi Aisyah ra dengan pakaiannya (rida) sedangkan ia melihat laki-laki habsyah bermain di dalam masjid sampai ia merasa bosan.

terakhir, tentu saja sebagai seorang yang memahami bahwa semua hal ini hanya akan bisa terselesaikan dengan adanya kesadaran akan wajibnya menutup aurat dan atau keharaman memeperlihatkan aurat kepada bukan mahrom kita, namun dibalik itu semua perlu adanya sebuah aturan tegas akan hal ini sehinga hal semacam ini dapat di cegah dengan menerapakn aturan yang tegas yang lansung dari sumber yang menciptkan manusia yakni aturan syariat islam dibawah institusi daulah al khilafah islamiyyah yang sebentar lagi akan segera tegak dengan izinNya. Amin…

saudaramu,

Adi Victoria

Menggenapkan “Separuh Dien” untuk Menjadi yang Terkenang di Hati : menjadi ayah dan suami yang ideal

Masih ingatkah kita dengan kata-kata “separuh dien”? Ya kata-kata yang disadur dari hadis nabi, yang sering dijadikan motivasi untuk segera menikah. Tapi sudahkah kita coba menyelami makna dari menggenapkan separuh dien ini?

Saudaraku fillah, perjalanan hidup ini membawa kita dari satu episode ke episode yang lain dalam suatu sinetron yang kita tak tahu kapan ceritanya berakhir. Dalam suatu episode kita dituntut memegang suatu peran dan pada episode yang lain kita diberi peran baru lagi tanpa harus meninggalkan peran yang lama, sehingga semakin lama episode kehidupan yang kita jalani semakin banyak peran yang harus kita lakoni, semakin berat amanah yang harus kita pikul.

Dalam perjalanan hidup kita yang mencoba menggenapkan separuh dien ini, mau tak mau Sang Sutradara akan memberi kita peran baru, bahkan diantara kita ada yang diberi dua peran sekaligus, ya kita pasti tahu peran itu sebagai suami dan ayah atau sebagai istri dan ibu. Memegang satu peran saja tidak mudah apalagi harus menjalani dua peran atau lebih sekaligus. Di saat yang bersamaan kadang2 beberapa peran menuntut loyallitas kita, pada saat itulah skala prioritas menjadi suatu keniscayaan.

Saudaraku fillah, sebagai laki2 menjadi ayah dan suami adalah suatu peran yang tidak bisa kita lepaskan ketika kita memilih episode pernikahan. Kita sering mendengar berapa banyak orang yang gagal memerankan peran ini dengan baik, sehingga selalu saja ada episode perpisahan atau perceraian.

Kadang2 cerita-cerita indah pernikahan yang pernah diidamkan hanya tinggal dongeng2 impian yang tak pernah berwujud kenyataan. Berapa banyak para suami yang mengeluhkan sikap istrinya, dan berapa banyak ayah yang tidak bisa mengerti bagaimana cara menghadapi anaknya. Demikian pula sebaliknya berapa banyak istri yang merasa diperlakukan tidak manusiawi dan anak yang merasa tidak dikasihi.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang pendeta (untuk diambil hikmahnya), dia mengatakan bahwa kadang orang tertipu oleh angan2nya sendiri, dia menganggap bahwa pasangannya akan selalu siap melayani dia, dia menganggap bahwa pasangannya akan berjalan sesuai dengan keinginan dia. Dia lupa bahwa pasangannya itu adalah orang lain, yang punya latar belakang yang berbeda dengan dia, yang punya masa lalu yang berbeda dengan dia, dan yang juga punya keinginan seperti dia.

Oleh karena itu ketika kata “AKU” yang bicara, ketika pikiran “AKU” yang digunakan, dan keinginan “AKU” yang diperturutkan maka sudah pasti bukan keharmonisan yang didapatkan. Sama halnya dalam suatu episode drama, ketika suatu peran merasa dirinya yang paling layak dilihat, dirinya yang paling layak didengar dan hanya dirinya yang paling layak diperhatikan maka kita akan merasa jemu melihat pertunjukan drama itu karena hanya dimainkan oleh satu peran.

Saudaraku fillah, dalam episode “rumah tangga” ini Allah sedang mendidik kita untuk berbagi bukan membagi, untuk mengerti bukan dimengerti, untuk mendengar bukan didengar. Menjadi pendengar, pengertian, emapati adalah peran yang paling sulit dilakukan karena itu berarti harus melakukan dua peran sekaligus, yaitu:menjadi suami dan ayah yang pengertian, suami dan ayah yang pendengar dan suami dan ayah empati.

Apalagi bagi seorang laki2, yang merasa punya superioritas peran sebagai “Qowam”, seakan-akan menjadi suami dan ayah yang mengerti adalah seperti melakukan dua peran sekaligus yang saling bertolak belakang, karena ketika menjadi suami yang “Qowam” seolah-olah dia merasa dialah yang harus didengar, dimengerti dan diperhatikan.

Maka kita harus mendudukkan fungsi “Qowam” pada tempatnya. Ketika kita disuruh menjaga istri dan anak kita dari api neraka seperti perintah Allah dalam At-Tahrim ayat 6, ketika itulah fungsi “Qowam” harus kita mainkan dengan bijaksana. Kenapa harus ditegakkan dengan bijaksana sebab rasul juga memberi peringatan pada kita untuk hati2 ketika meluruskan sikap pada wanita karena wanita itu bagaikan tulang rusuk, kalau dibiarkan tetap bengkok kalo dipaksa bisa patah.

Ketika fungsi “Qowam” tidak dilakukan dengan bijaksana yang terjadi adalah kesewenangan dan pemaksaaan yang berujung pada sikap perlawanan dan pembangkangan. Hal yang sama juga dapat terjadi pada anak. Anak akan jadi pembangkang bila dia didik dengan pemaksaan dan kediktatoran. Sebaliknya Luqman mengajarkan pada kita dalam Al-Qur�an agar mendidik anak dengan persuasif dan argumentatif.

Nabi Ibrahim juga memberi teladan bagaimana dia meminta pendapat anak, berdiskusi dengan anak untuk suatu kewajiban yang diperintahkan Allah. Kita juga dapat meneladani bagaimana Rasulullah SAW juga mengajarkan persamaan derajat hukum dimata Allah kepada Fatimah, dan masih banyak lagi contoh yang bisa kita teladani bagaimana menjadi ayah yang terbaik bagi anak kita.

Saudaraku fillah yang dinginkan Sang Sutradara dari peran kita adalah “qowam” yang melindungi, menyayangi dan yang mau mengerti yang menanggalkan segala atribut “kekuasaan”, “kesewenangan”, dan “keegoisan”. Indah sekali perumpamaan Allah SWT yang diberikan pada kita “kamu bagaikan pakaian bagi mereka dan mereka adalah pakaian bagi kamu”.

Dari ayat ini kita bisa menangkap pesan yang diinginkan Sang Sutradara, bahwa kita dituntut saling melengkapi, saling mengerti, saling menghargai, dan saling bekerja sama, tidak ada yang merasa harus lebih dihargai, lebih dimengerti dan lebih tinggi. Kalau peran yang diminta Sang Sutradara kita jalani maka kita akan merasa saling mencinta, nyaman, aman, dan tenteram dalam menjalani episode “rumah tangga”. Perasaan nyaman, aman, tentreram itu sering kita kenal dengan istilah Sakinah, Mawaddah wa Rahmah.

Saudaraku fillah ketika perasaan sakinah mawaddah wa rahmah itu terjaga dalam hati masing2 pasangan maka jika salah satu pasangan tersebut tiada maka akan dikenang oleh pasangan yang masih hidup. Sebagaimana Rasulullah SAW selalu mengenang Khadijah r.a. walaupun beliau sudah menikah dengan Aisyah yang jauh lebih muda dari Khadijah.

Jadi yang membuat kita terkenang di hati bukan fisik kita tapi pengorbanan kita untuk mau menjadi suami dan ayah yang mau mengerti, mau menyayangi dan empati di mata istri dan anak kita. Semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk menjadi suami dan ayah yang ideal bagi keluarga kita. Amin.

“aku mencintai karena agama yang ada padamu, jika agama itu hilang dari dirimu, maka hilanglah cintaku untukmu”

Semoga menjadi ramadhan yang terakhir.... ^_^

Assalamu'alaikum wr wb teman-teman semua...

insha Allah kita kan memasuki bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini, ya bulan yang selalu di tunggu oleh setiap insan yang merindukan amalan yang berlipat ganda dengan mengharap ridhaNya. ^_^

“Bulan Ramadhan itulah bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia, dan menjadi keterangan-keterangan dari petunjuk itu dan membedakan antara yang haq dan yang bathil. Maka barangsiapa di anatar kamu melihat bulan itu hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah:185

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya; Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”


kita tidak tahu apakah masih sempat bertemu dengan tamu agung itu apakah tidak, namun dengan mengharapkan bertemu dengan tamu tersebut pun telah menjadi kenikmatan tersendiri bagi kita.

"Allahumma Ballighna Ramadhan" Ya Allah sampaikan umur kami pada bulan ramadhan”

Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda”Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. ” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

semoga Ramadhan tahun ini benar-benar dapat menjadikan kadar keimanan dan ketaqwaan kita menjadi semakin bertambah.

bertambah semangat dalam perjuangan dalam rangka menyonsong tegaknya syariah dan khilafah.

semoga menjadi ramadhan terakhir tanpa khilafah... ^_^
dan juga semoga menjadi ramadhan terakhir sahur sendirian... ^_^
amin....

Marhaban ya ramadhan
ya syahrul mubarok
raih taqwa, sonsong nashrullah tegaknya syariah & khilafah 'ala minhajin nubuwah.

mohon maaf atas segala kekhilafan, janji yang belum tertunaikan dan kata yang menyentuh hati dan tak mengenakan di hati antum semua.

sahabatmu dalam perjalanan,


(Adi Victoria & keluarga)